
Calon presiden Amerika Serikat, Barack Obama, 46, memperoleh kembali kepercayaan dirinya setelah beberapa minggu mengalami kemunduran. Kemarin (7/5) Obama membukukan kemenangan penting atas saingannya, Hillary Rodham Clinton, 60, dalam primary (pemilihan awal) Partai Demokrat di negara bagian North Carolina.
Meski pada saat bersamaan Hillary memimpin perolehan suara primary di Indiana, jumlah delegasi yang diperebutkan di Indiana lebih kecil daripada North Carolina. Karena itu, kemenangan mantan ibu negara tersebut belum bisa menghambat laju Obama dalam perebutan nominasi partai.
Dari 99 persen precinct (kelurahan) yang terhitung di North Carolina dan menyediakan 115 delegasi, Obama mendapatkan 56 persen suara. Dia unggul telak atas Hillary yang mendapat 42 persen suara. Sedangkan di Indiana yang menyediakan 72 delegasi, Nyonya Clinton hanya menang tipis yakni 51 persen suara dan Obama 49 persen dari 99 persen precinct yang sudah dihitung.
Kemenangan di North Carolina ini agaknya bakal mengawali rangkaian kemenangan di sejumlah negara bagian selatan yang populasi kulit hitamnya cukup besar. Sementara bagi Hillary, kekalahan di North Carolina membuat harapannya untuk memperkecil jarak semakin pupus.
Dengan perolehan delegasi terbaru kemarin, Obama semakin unggul dengan mengantongi 1.836 delegasi, termasuk para delegasi super. Hillary tertinggal 155 delegasi karena baru mengantongi 1.681. Untuk memenangkan nominasi partai, salah satu dari keduanya harus mencapai 2.025 dukungan. Itu artinya, Obama hanya butuh 200 delegasi lagi untuk keluar sebagai pemenang nominasi Partai Demokrat.
Usai dipastikan menang, dari Raleigh, North Carolina, Obama menyatakan, kemenangan di primary North Carolina adalah kemenangan melawan "politik pecah-belah" dan "politik untuk menciptakan kebingungan". Senator Illinois itu mengatakan, dia mampu mengatasi permainan-permainan politik negatif, yang menurut dirinya, tidak dapat menyelesaikan problem apa pun. "Rakyat Amerika tidak mencari lebih banyak lagi pemutarbalikan. Mereka mencari jawaban-jawaban yang jujur," tegas Obama, didampingi istrinya, Michelle. "Hari ini, North Carolina memutuskan satu-satunya permainan yang membutuhkan perubahan adalah di Washington DC," lanjutnya.
Obama menyebut kemenangan di North Carolina, negara bagian berpenduduk terpadat ke-10 di AS, sebagai "Kemenangan di sebuah negara bagian yang harus diupayakan dimenangkan jika seseorang adalah kandidat Demokrat untuk menjadi presiden AS". Lebih lanjut kandidat yang pernah tinggal lima tahun di Jakarta itu semasa kecilnya itu mengumbar keyakinan akan meraih kursi nominasi partai. "Malam ini tidak sampai 200 delegasi lagi, kita akan memenangkan nominasi Demokrat menuju presiden Amerika Serikat," kata Obama.
Meski jalan yang ditempuh semakin terjal, pernyataan kemenangan juga diluapkan Hillary. "Kemenangan malam ini adalah kemenangan untuk Anda semua," kata Hillary di depan para pendukung di Indiana. Senator New York kembali menegaskan, tidak punya keinginan sedikit pun untuk mengakhiri pertarungan untuk memenangkan pencalonan di Partai Demokrat menuju kontes pemilihan presiden November. "Saya tetap berjuang demi Anda ," katanya.
Dengan perkembangan terakhir kemarin, Hillary kini tinggal menggantungkan nasib kepada para superdelegate (para tokoh partai dan politisi terpilih yang berhak memberikan suara kepada siapa saja tanpa ada komitmen dengan konstituen) untuk memastikan apakah dia bakal mendapat tiket ke Gedung Putih. Saat ini ada 220 dari 796 superdelegate yang belum memberikan suara.
Setelah pemilihan pendahuluan kemarin, hanya tersisa enam kontes lagi sebelum primary berakhir pada 3 Juni. Hillary berharap bisa membukukan kemenangan di West Virginia Selasa (13/5) minggu depan, Kentucky pada 20 Mei, dan Puerto Rico pada 1 Juni . Sedangkan Obama diperkirakan menang mudah di daerah basis warga kulit hitam yaitu Oregon pada 20 Mei, dan primary terakhir di Montana dan South Dakota pada 3 Juni.

No comments:
Post a Comment